Rabu, 02 September 2015

sebuah ketakutan



Pada masa kecil itu, aku sangat penakut, bukan takut pada hantu atau takut berkelahi, aku takut dimarah oleh orang tuaku dan kakak-kakak perempuanku, meskipun sebenarnya mereka tak pernah marah jika aku tidak melakukan kesalahan, tapi tetap saja aku merasa takut, entah kenapa, aku akan sangat takut jika kakak perempuanku sedang memarahi abang jaka, meskipun abang jaka sendiri terlihat seperti tidak sedang dimarah, tapi aku yang merasa takut, aku akan merasa takut jika ibuku atau ayaku sedang memarahi kakakku, meskipun bukan aku yang sedang dimarah, tapi aku sangat merasa takut, ada suatu ketika, yuk sak ribut dengan yuk sik, saat itu, mak dan ayah sedang berada di ladang, kakakku yang melerai keduanya, tapi terlanjur tetangga sudah mendegar keributan keduanya, akhirnya ketika mak dan ayah pulang, cerita itu sampai ketelinga mereka,  keduanyapun dimarahi ayah, aku sangat ketakutan saat itu, seakan akulah yang sedang dimarah, seakan akulah yang bersalah. Ayah pun menghukum keduanya dengan memerintahkan mengepel rumah sampai bersih, aku pun hanya bisa bersembunyi didalam kamar sambil sesekali mengintip keluar dibalik tirai, yuk sak yang sedang mengepel didepan kamarku, tersenyum dan bertanya “napo jon?” ia sepertinya tau aku sedang ketakutan dan seperti merasa bersalah untuk hal yang tidak ada, aku tidak berani menjawab pertanyaanya, hanya berani diam dan menunduk, lalu kembali menutup tirai kamar. Seringkali aku bertanya pada diri sendiri, mengapa aku takut?, aku tidak melakukan kesalahan, tidak ada yang marah padaku, tidak ada yang membenciku, tapi, mengapa aku sangat takut? Entahlah,,
Karena ketakutan itulah aku tak pernah berkata tidak jika kakakku atau orang tuaku memberiku tugas atau menyuruhku, aku kerjakan dengan sebaik yang aku bisa, aku hanya akan menjawab “yo” itu saja. Aku yang lebih sering diam dan menyendiri, membuat perasaanku sangat peka, intuisi yang tajam, jika aku sedang merasa takut dan hatiku tidak tenang, itu artinya akan ada yang dimarahi didalam keluarga ini, atau akan ada hal yang kurang baik yang akan terjadi dan itu benar.
Hampir setiap sore kakaku mengajak aku mandi di sungai kelingi, berjalan kaki kurang lebih 15 menit dari belakang rumah kami, disana, para anak kecil berumur 12 tahun kebawah berkumpul, baik anak perempuan maupun anak laki-laki, banyak anak sebaya denganku, tapi tetap saja, kakakku lah temanku. Ditengah sungai, ada sebuah batu besar, sangat besar, batu tengkudu namanya, anak-anak yang sudah bisa berenang berkumpul disana, kemudian meloncat dari atas batu terjun kesungai, kakakku pastinya salah satu dari mereka, ia pandai berenang, sedangkan aku, berenang dipinggiran sungai yang dalamya hanya setinggi lututku. Bang jaka kadang mengajaku berenang ke batu tengkudu, dengan cara menggendongku di lehernya, aku takut, tapi aku sangat yakin pada kakakku itu, ialah satu-satunya orang yang membuat aku nyaman dan melupakan semua pertanyaan yang tak bisa aku jawab.

Selasa, 01 September 2015

DAN,,,




LATAR BELAKANG,,,
Itulah alasan mengapa aku menjadi jiwa yang labil, pendiam, dan memendam semua yang aku rasakan, terkadang dalam hati yang paling dalam aku bertanya, mengapa aku dibuang, seperti sampah yang tidak diinginkan. Semua jawaban dari pertanyaan itu dapat aku jawab saat ini, tapi tidak saat itu. Kakaku yang sangat baik itu, memahami apa yang aku rasakan, ia seperti tau yang aku pikirkan, ia selalu memperhatikanku, selalu berkata “ abang joni nak apo be ngomong samo abang jaka, pasti bang jaka kasih, ado apo be cerito samo abang jaka” ia benar – benar malaikat yang aku miliki, orang tuaku saat ini, adalah orang tua yang sangat baik padaku, tidak ada perbedaan antara aku dengan saudaraku yang lain, begitu juga dengan saudaraku yang lain, yaitu 2 orang saudara perempuan, anak pertama yang dipanggil yuk sak (ayuk besak) dan kedua yuk sik ( ayuk desih) , mereka semua sangat baik, menganggapku seperti adik kandung sendiri, tapi mungkin karena mereka perempuan, sehingga aku sedikit tertutup pada mereka, mungkin tepatnya sangat tertutup. Dalam keluarga ini aku menjadi anak ke-4, saudara perempuanku anak pertama dan kedua, dan kakakku adalah anak ketiga.
Ketika sedang sendirian, aku sering berfikir dan melamun, membayangkan apa yang sedang ibu kandungku kerjakan, dimana dia berada, dan yang yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri, apakah ia ingat padaku? Kuhabiskan masa kecilku mengikuti kemanapun kakaku pergi, memperhatikan apapun yang dia lakukan, dan belajar darinya, dan jika ia sedang tidak ada, aku akan menghabiskan waktuku sendiri dengan diam dan berfikir, mengulang pertanyaan yang sama pada diri sendiri, meskipun aku tak pernah menemukan jawabannya.
Aku sangat menyukai hujan, sangat bahagia ketika hujan turun, karena kakaku pasti mengajakku untuk segera melepas pakaian dan mandi hujan, pada saat-saat itulah aku merasa sangat bahagia, dan tak merasa kekurangan apapun, dan jika hujan turun dan ia sedang tidak ada, maka aku akan masuk kedalam lemari pakaian orangtuaku, lemari hitam namanya, karena ia berwarna hitam tanpa ada warna lainnya, itu adalah lemari pakaian orang lama, terbuat dari kayu yang sangat kuat, terdiri dari dua rak pakaian yang dibatasi oleh papan ditengahnya sehingga ada empat rak pakaian, di rak bagian bawah, ada satu rak yang kosong, disitulah aku menghabiskan waktuku ketika hujan turun dan kakak sedang tidak dirumah, entah bagaimana aku bisa muat didalam sana, karena terlihat saat ini, rak itu sangat kecil. Kalau sudah berada didalam sana, pintu lemarinya aku tutup, ku pejamkan mataku, dan mulai mendengarkan rintik hujan yang turun, sambil memeluk kaki, agar merasa hangat, dan selalu berharap hujan tak pernah reda.

Selasa, 25 Agustus 2015

My History



Joni firnando, itu adalah nama yang aku miliki ketika aku kecil, sampai saat aku mulai memasuki masa sekolah, ayahku mengganti nama ku menjadi FIRMANSYAH AMRI. Tapi sampai saat ini keluarga dan tetanggaku tetap memanggilku dengan nama joni, dari kecil, teman terbaikku hanya satu, dialah kakakku, ZAKARIA AMRI, biasa aku panggil bang jaka, dia seorang kakak terbaik yang aku miliki, dia juga satu-satunya teman yang aku miliki, dia sangat pengertian, sabar dan penuh kasih sayang,, dia segalanya,, dia sangat sadar bahwa aku memiliki jiwa yang sangat labil, sangat perasa, dan memendam perasaan apapun, dia sangat paham aku tidak berani berkata tidak untuk hal apapun yang dikatakan orang tua dan kakak perempuanku, aku tidak berani meminta apapun pada mereka, karena itu ia sangat memperhatikan setiap langkahku, ia seperti malaikat penjaga yang tuhan anugerahkan kepadaku, sejak orang tuaku yang lain pergi. Yah, benar, aku bukanlah anak kandung didalam keluarga ini, secara teknis, aku anak adik dari orang tuaku yang sekarang,  aku masuk kedalam bagian keluarga ini sejak orang tua kandung ku bercerai, untuk masa depanku, ibuku memberikan aku pada kakaknya, yaitu orang tuaku sekarang, dan ayah kandungku, entah kemana wujudnya, aku bahkan tidak dapat mengingat wajahnya. Meskipun pada saaat itu aku masih kecil, mungkin berumur kurang lebih 2 tahun, tapi aku memiliki ingatan yang sangat kuat, aku ingat ketika ibuku pergi, dan aku sadar bahwa ia akan pergi untuk waktu yang lama, aku tidak menangis, tidak, bahkan aku tidak berkata apapun, aku sadar, mulai saat itu, aku memiliki hidup yang baru, keluarga yang baru, dan sejarah hidup yang baru.



IT'S MY LIFE

THE STORY IS BEGIN

Ini adalah sejarah hidup yang telah aku alami, cerita ini untuk konsumsi pribadi, dan sekedar untuk kenang-kengan kelak, agar aku tidak lupa siapa aku sebenarnya. semua cerita yang ditulis adalah kisah nyata, dan maaf bagi orang-orang yang terkait didalamnya. DAN SEBUAH SEJARAH AKAN MEMBUKA SEGALANYA