Selasa, 01 September 2015

DAN,,,




LATAR BELAKANG,,,
Itulah alasan mengapa aku menjadi jiwa yang labil, pendiam, dan memendam semua yang aku rasakan, terkadang dalam hati yang paling dalam aku bertanya, mengapa aku dibuang, seperti sampah yang tidak diinginkan. Semua jawaban dari pertanyaan itu dapat aku jawab saat ini, tapi tidak saat itu. Kakaku yang sangat baik itu, memahami apa yang aku rasakan, ia seperti tau yang aku pikirkan, ia selalu memperhatikanku, selalu berkata “ abang joni nak apo be ngomong samo abang jaka, pasti bang jaka kasih, ado apo be cerito samo abang jaka” ia benar – benar malaikat yang aku miliki, orang tuaku saat ini, adalah orang tua yang sangat baik padaku, tidak ada perbedaan antara aku dengan saudaraku yang lain, begitu juga dengan saudaraku yang lain, yaitu 2 orang saudara perempuan, anak pertama yang dipanggil yuk sak (ayuk besak) dan kedua yuk sik ( ayuk desih) , mereka semua sangat baik, menganggapku seperti adik kandung sendiri, tapi mungkin karena mereka perempuan, sehingga aku sedikit tertutup pada mereka, mungkin tepatnya sangat tertutup. Dalam keluarga ini aku menjadi anak ke-4, saudara perempuanku anak pertama dan kedua, dan kakakku adalah anak ketiga.
Ketika sedang sendirian, aku sering berfikir dan melamun, membayangkan apa yang sedang ibu kandungku kerjakan, dimana dia berada, dan yang yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri, apakah ia ingat padaku? Kuhabiskan masa kecilku mengikuti kemanapun kakaku pergi, memperhatikan apapun yang dia lakukan, dan belajar darinya, dan jika ia sedang tidak ada, aku akan menghabiskan waktuku sendiri dengan diam dan berfikir, mengulang pertanyaan yang sama pada diri sendiri, meskipun aku tak pernah menemukan jawabannya.
Aku sangat menyukai hujan, sangat bahagia ketika hujan turun, karena kakaku pasti mengajakku untuk segera melepas pakaian dan mandi hujan, pada saat-saat itulah aku merasa sangat bahagia, dan tak merasa kekurangan apapun, dan jika hujan turun dan ia sedang tidak ada, maka aku akan masuk kedalam lemari pakaian orangtuaku, lemari hitam namanya, karena ia berwarna hitam tanpa ada warna lainnya, itu adalah lemari pakaian orang lama, terbuat dari kayu yang sangat kuat, terdiri dari dua rak pakaian yang dibatasi oleh papan ditengahnya sehingga ada empat rak pakaian, di rak bagian bawah, ada satu rak yang kosong, disitulah aku menghabiskan waktuku ketika hujan turun dan kakak sedang tidak dirumah, entah bagaimana aku bisa muat didalam sana, karena terlihat saat ini, rak itu sangat kecil. Kalau sudah berada didalam sana, pintu lemarinya aku tutup, ku pejamkan mataku, dan mulai mendengarkan rintik hujan yang turun, sambil memeluk kaki, agar merasa hangat, dan selalu berharap hujan tak pernah reda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar